Jumat, 23 Januari 2015

Day Diary (23 Januari 2015)

23 Januari 2015 adalah hari yang paling melelahkan, bukan karena bersepeda, tetapi karena waktuku habis berbaring di atas kasur. Dinginnya udara di Baleendah pagi tadi, lebih dingin dari udara yang biasanya mampir ke sela-sela jendela kamarku. 

"Emang udara yang biasanya mampir ke sela-sela jendelanya seperti apa, Kak?" Udaranya seperti teh tawar hangat. :D

"Loh, kok teh tawar hangat?" Iya, kalau aku makan di warteg, biasanya minta minum yang biasa aja, beberapa saat kemudian datang deh segelas teh tawar hangat. Jadi aku berasumsi bahwa biasa adalah teh tawar hangat. wkwkwk :v

"-____-"

Namun, setelah aku pahami kondisi tubuhku, terasa ada perbedaan dari biasanya. Permukaan kulitku terasa lebih kasar, suhu tubuhku naik, dan amandel yang menggantung di leherku terasa serak dan menyakitkan 

Oh, ini pertanda Allah sedang memberikanku kesempatan untuk sakit. Alhamdulillah. :)

Aku mencoba memberikan sugesti positif pada diriku, agar aku dapat lebih menikmati sakit yang sedang Allah anugerahkan kepadaku. Ya, sakit adalah anugerah, sehat juga anugerah. Keduanya harus dinikmati dan disyukuri. :')

Beberapa hari ini memang aku kurang menjaga pola makan dan pola tidur sehat, karena terlalu asyik bekerja. Walaupun aku sering bersepeda, tetapi menurut pakar-pakar kesehatan, pola makanlah yang sangat berpengaruh terhadap kesehatan. Ya, mungkin Allah sedang menegurku, untuk segera menyeimbangkan pola hidup yang aku jalani. 

"Berobat ke dokter dong, bro." Engga, aku sudah mulai mengurangi kebiasaan untuk mengobati penyakit dengan ilmu pengobatan Barat. Aku sedang mencoba menyadarkan diri, bahwa aku adalah bangsa Timur, pengobatan yang cocok bagi diriku pun pasti pengobatan yang berasal dari Timur. :D

Aku mengobati tubuhku dengan teknik pijat refleksi yang aku pelajari secara otodidak. Alhamdulillah, khasiatnya cukup terasa, bahkan aku pun bisa membuat postingan untuk hari ini. ;)

Sayangnya, dalam kondisi seperti ini aku tak bisa berlama-lama untuk berhadapan di depan layar. Mungkin cukup sampai di sini saja aku menulis postingan Day Diary hari ini, aku terlalu lelah untuk menulis lebih banyak, aku butuh istirahat lebih banyak dari biasanya. 

Padahal aku ingin menuliskan opini mengenai fenomena #SaveKPK yang terjadi hari ini, tetapi apalah dayaku, energi jasadku tak sampai 60%. :')

Walaupun singkat, semoga ada hal positif yang bisa diambil dari postinganku hari ini. Jangan lupa, tetap jaga kesehatan kalian dengan mengatur pola makan & sering-seringlah berolahraga. 

Hal yang paling penting yang tak bole dilupakan, apabila sudah sehat janga lupa beribadah dan bersyukurlah atas nikmat sehat yang sedang dipinjamkan oleh Allah Swt. :)


Sandra Dewa



Kamis, 22 Januari 2015

Day Diary (22 Januari 2015)


Anona Squamosa - Buah Srikaya
Flash Fiction

Di bawah langit senja Baleendah, tampak seorang pemuda berambut panjang tengah memanen buah Anona Squamosa di halaman depan rumah neneknya. Di Indonesia, buah anona squamosa lebih akrab dengan panggilan Srikaya. 

Dia mengambil sebuah tangga, lalu tangga tersebut disandarkan di sebelah pohon srikaya, lalu dipanjatnya tangga tersebut, lalu dicarinya buah srikaya yang sudah masak dan ranum, lalu dipetiknya buah srikaya yang sudah masak dan ranum, lalu dia turun dari tangga, lalu dia memotretnya, lalu dia memostingkanya di Instagram.

Tamat


"Flash fictionnya sangat luar biasa, bung." Alhamdulillah, luar biasa apanya, bang? :D

"Luar biasa tidak penting, bung." -____-'

"Gimana rasanya, bro?" Manis.

"Gula juga manis, bro. Coba lebih dispesifikasikan lagi jawabanya, kalau perlu gunakan bahasa teknik." Oke siap, tapi tak usah dengan bahasa teknik, aku masih menikmati suasana liburan. :v

Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), penjelasan mengenai srikaya dipaparkan seperti ini:

Srikaya adalah tanaman perdu yang tingginya 2 - 7 meter, buahnya berbentuk bundar, kulit luarnya kasar bermata banyak dan berwarna hijau keputih-putihan. Daging buahnya berwarna putih, kasar, berbiji banyak, dan manis rasanya.

"Tanaman perdu itu apa, Kak?" Tumbuhan kayu yang bercabang-cabang, tumbuh rendah dekat dengan permukaan tanah, dan tidak mempunyai batang yang tegak, Kek.

Pohon Srikaya di Halaman Rumah Nenekku


"Buah Srikaya bisa biki kayak engga, bos?" Engga, kalau mau kaya, coba tanya ke kucing. :D

"Lah, kok ke kucing?" Pasti kucing bilang: maok. Lalu download kamus bahasa Sunda di Google Playstore, lalu cari apa artinya maok. :v

"Meong bukan maok, Kak." Aku kan anti-mainstream, begitu pula yang terjadi dengan pendengaranku. wkwkwk

"Bukan anti-mainstream, tapi elunya aja yang budeg. -_-" Hahaha, gue belum periksa nih, soalnya dokter THT engga terima kartu BPJS. wkwkwk

Selain memanen buah srikaya, hari ini aku mengikutsertakan kembali salah satu ide dan inovasi gokilku dalam tantangan #IniAksiku dari Earth Hour Indonesia. Ide dan inovasinya adalah memanfaatkan sepatu bekas menjadi pot tanaman.

Pot Dari Sepatu Bekas
Bagaiamana, keren kan inovasiku ini? Bahkan oleh akun twitter @EHIndonesia dibuat menjadi tweet, bukan sekedar di re-tweet. :v

Engga percaya? Follow saja akun twitter @sandradewa_, nanti akan aku tunjukan bukti otentiknya. :)

Masih banyak hal-hal menarik yang bisa aku tulis dalam postingan ini, tetapi berhubung aku belum sempat menyantap buah srikaya yang sudah aku panen, jadi lebih baik makan dulu buah srikayanya sebelum kantuk menyerangku. :D

Mau juga? Datang saja ke rumahku, nanti aku beri bijinya untuk ditanam di rumahmu. Lalu bersabarlah untuk selalu memeliharanya sampai besar dan bisa berbuah, kuran lebih dalam kurun waktu tiga sampai empat tahun, baru kamu bisa memakan buah srikaya. wkwkwk :v
 
Sandra Dewa

Rabu, 21 Januari 2015

Day Diary (21 Januari 2015)


Secangkir Tiramisu dan sepasang Caroza Smoked Beef menemaniku menikmati tangisan sang langit senja di rumah makan Selasih, Cikutra, Bandung. 

Tiramisu & Caroza Smoked Beef


"Posting di Instagram juga, Kak?" Sudah dong, coba aja cek di akun @sandradewa_. wkwkwk :v

"Ah, ind*cafe coffemix + risoles oge" celetuk Diki Nugraha, di kolom komentar postinganku ini di Instagram.

Kalau kata Ahok, ini komentar kurang ajar. Padahal kedua pakanku tadi sore itu total harganya 18k. -__-"

Sayang, bukti pembayarannya hilang. Entah jatuh di jalan, entah dicopet orang. Tapi sebagai bukti otentik untuk bung Diki, aku perlihatkan saja bukti pembayaran keduaku saat memesan kopi hitam, minuman favoritku. :D

Bukti pembayarannya nih, bung Diki. :D

Walaupun pengeluaran jajan soreku sudah seharga empat kali harga makan di warteg, tak apalah demi mengobati rasa penasaranku. 

"Elu empat kali makan di warteg bisa 18 ribu?" Iya, estimasi satu kali makan Rp. 4.500.

"Emang biasanya pesen apa aja di warteg, bro?" Nasi 1/2, tempe, sayur daun singkong, krupuk, dan minta kuah + bumbu ayam kecap. :v

"Luar biasa, bung!" Luar biasa apanya?

"Luar biasa jiwa mahasiswanya. :D"

Rencananya hari ini ada agenda diskusi bersama tiga ekor manusia berbadan besar: Adinda Ria Rumondang Veranita, Arlangga Sambas Moeharam, & Randika Beni Namirat. :v

"Wah, kejam banget, bos." Kejujuran memang menyakitkan. wkwkwkw 

Awalnya banyak hal positif dari perbincangan kami berempat yang bisa ditulis dalam postingan ini, tetapi gara-gara gerombolan wanita berjilbab hitam yang cantik-cantik jelita, aku jadi lupa apa yang mau aku tulis. 

Aku juga lupa tidak membawa memory eksternal kameraku, jadi gagal deh mendokumentasikan gerombolan wanita berkerudung hitamnya. :')

Tapi aku kutip saja kata-kata dari teh Dinda, tetapi telah aku revisi dari sumber aslinya, demi kemaslahatan bersama. :D


"Apa pun perjuangannya, strategi solusinya. Termasuk dalam memperjuangkan cinta."  


Kata-kata yang begitu diniatkan dengan hati, diucapkan dengan lisan, dan dilakukan dengan perbuatan oleh orang yang mengatakannya. Semoga saja amal & ibadahnya diterima di sisi Allah Swt. :D #loh

Setelah selesai berdiskusi dengan alot dan kadang terganggu oleh berbagai gangguan dari pihak luar, terutama karena hilir mudiknya wanita-wanita cantik, akhirnya kami pun berfoto groufie. :D #GaNyambung


"Yang ini jangan diposting"kata teh Dinda. :)
"Aku ko gitu sih?" kata teh Dinda lagi. (Bawaan lahir, teh. :v)

Foto di atas disimpan dalam memory internal kameraku, diambil dengan sistem timer 10 detik. Padahal bisa saja aku gunakan untuk mendokumentasikan gerombolan wanita berkerudung hitam. 

Tetapi, tiba-tiba ada bisikan yang terdengar dalam hatiku, bisikannya seperti ini:

"Woi, daripada foto cewek, orang lain pula. Lebih baik foto teman sendiri yang jelas-jelas berada di sampingmu dan berjuang bersamamu. Abadikanlah mereka dalam citramu, abadikan juga mereka dalam jiwamu." Anonim

Pongahku dalam lamunan sesaat, bisikan dari manakah gerangan? Entahlah aku tak tahu. Siapa pun dirimu, aku ucapkan terima kasih atas anjuran hebatnya, duhai bisikan gaib. :)


Sandra Dewa

Selasa, 20 Januari 2015

Day Diary (20 Januari 2015)

Hari ini aku mengikuti dua buah perlombaan foto, lomba foto #IniAksiku yang diadakan oleh Earth Hour Indonesia di Twitter dan lomba #Enevation yang diadakan oleh Kompas Muda di Instagram.   

"Wah, rajin banget ikutan lomba-lomba, Kak." Iya, memang aku sering mengikuti berbagai perlombaan,  Kek. Tapi bukan hadiah yang aku kejar, melainkan proses pendewasaan diri. :)

"Proses pendewasaan diri? Apa kaitanya dengan perlombaan, bung?" Perlombaan adalah sebuah tantangan, tantangan dibutuhkan dalam proses pendewasaan diri seorang manusia. :)

Bahkan dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) dijelaskan bahwa pendewasaan adalah proses, cara, perbuatan menjadikan dewasa: proses - dipercepat oleh munculnya bermacam-macam tantangan. 

Tantangan akan melatih kedisiplinan, keuletan, kerajinan, keterampilan, dan konfiks pembentuk verba lainnya yang dibutuhkan untuk proses pendewasaan diri.

Jadi, sudah mengerti dampak positif dari mengikuti perlombaan terhadap proses pendewasaan diri?

"Sudah, Kak. Silahkan lanjutkan ceritanya. :D" Oke siap, segera dilaksanakan, Kek. :)

Dua perlombaan foto ini mengusung tema yang hampir sama, yaitu gerakan untuk menghemat energi yang dikemas di dalam sebuah foto. Namun konsep yang diusung oleh dua penyelenggara berbeda. 


Konsep lomba foto yang dilombakan oleh EH Indonesia adalah foto aktivitas #IniAksiku menghemat energi dalam satu minggu, dengan sub-tema yang berbeda-beda. Hari pertama, kemarin, tema foto adalah tumbler (tempat minum). Hari ini temanya adalah re-use bag atau goodie bag. 

Ini beberapa fotoku yang telah diikut sertakan dalam perlombaan #IniAksiku:


Sedia Tumbler Sebelum Haus Saat #BiketoCampus



Diet Kantong Plastik Saat Belanja Buku Dengan Membawa Goodie Bag
"Wah, bagi informasi lengkapnya dong, bos. Ane pengen ikutan." Kalau lomba yang ini sudah dimulai dari hari senin, ane juga baru tahunya kemarin juga dari adik kelas di kampus. 

Setahuku, lomba #IniAksiku memang bukan lomba berhadiah, hanya sekedar tantangan semata. Tetapi tak apa lah, aku tak terlalu peduli dengan hadiah. :D

"Lah, terus ngapain elu ikutan kalau engga ada hadiahnya? Cape-cape aja." Eh, elu juga udah tau kan gue sangat suka dengan yang namanya tantangan, jadi gue jabanin aja. Apalagi "menghemat energi" kan cuma hal-hal yang mudah untuk dilakukan, bagi gue sih, entahlah bagi orang lain. Apalagi lombanya cuma twitpic fotonya aja. ;)

Apalagi ada satu tema yang mengangkat mengenai "kendaraan ramah lingkungan", sudah tentu Jangkis masuk dalam kandidat tema di lomba tersebut. :D


"Kalau yang lomba Kompas muda, masih bisa, bos?" Bisa, masih ada waktu sampai tanggal 23 Januari 2015. Ayo ikutan juga!!


Untuk lomba yang diadakan oleh Kompas Muda memang cukup mudah, karena hanya ada satu tema foto saja, tetapi jujur lomba ini lebih memacu kreatifitas serta inovasiku. :)

Nah, ini dia foto yang aku ikut sertakan dalam lomba #Enervation dan sudah aku posting di akun Instagram @sandradewa_. Maaf kalau banyak narsis, namanya juga diary. :D




Aksiku Untuk Hemat Energi! #Enervation#KitadanEnergi @kompasmuda


Agar bisa menghemat energi listrik, gitar listrik dapat digunakan tanpa menggunakan speaker aktif. Cukup menggunakan aquarium sebagai medium atau perantara perambatan bunyi dari gitar listrik ke aquarium untuk melakukan proses resonansi sederhana. (Ilmu Fisika)



Caranya cukup tempelkan ujung gitar listrik ke badan aquarium, bunyi yang dihasilkan oleh gitar listrik pun akan merambat ke kaca aquarium dan membuat suara gitar listrik terdengar lebih jelas. :D



Inilah inovasi sederhanaku beraksi dan berkreatifitas dalam rangka menghemat energi @kompasmuda. :) Yuk tunjukan aksi hemat energimu dalam lomba #Enervation! Cek informasi lengkapnya di website www.kompasmuda.com




"Wah keren inovasinya, bos." Iya, pastinya aku juga akan mengatakan keren pada diriku sendiri sebagai bentuk sugesti diri, supaya kerennya menjadi nyata. Aamiin. :v

"Lomba ini cuma tantangan juga, bro?" Engga, lomba yang ini ada hadiahnya. Juara 1 mendapatkan uang tunai Rp. 3.000.000.


"Cuma juara 1 aja?" Engga, masih ada juara 2 dan juara 3. Aku hanya berusaha menuliskan target utamaku saja. :D

"Yaelah, elu bilang engga ngejar hadiah, tapi tantangan untuk proses pendewasaan diri." Hahaha, siapa tau aja gue beruntung. Soalnya kalau gue dapet hadiahnya, mau gue pake buat bayar uang kuliah semester depan. :') 

Ya, semoga saja lomba ini menjadi rezekiku dan Allah memberikan izin bagiku untuk menang, kebetulan aku jarang juga aku mendapatkan hadiah dengan nominal besar dari mengikuti berbagai macam perlombaan. :D

Sandra Dewa



Senin, 19 Januari 2015

Day Diary (19 Januari 2015)

Alhamdulillah, hari ini aku menemukan kabar gembira, tepatnya saat kembali berlabuh di kampus cangcut setelah menikmati liburan singkat bersama Jangkis. Ternyata, salah satu mata kuliah paling banyak aku ulang, "Dasar Elektronika", akhirnya lulus juga. 

Nilai akhirnya memang tidak luar biasa, terutama bagi penilaian orang awam. Tetapi bagiku pribadi, aku sudah puas dengan hasil jerih payahku tersebut, jujur aku sudah berusaha tidak menyontek saat ujian mata kuliah ini. :')

Nilai UAS yang bertabur dengan nilai E. Alhamdulillah lah. :D


"Ngulang lagi lah, Kak. Sayang banget kalau dapat nilai C." Engga ah, Kek. Lebih sayang lagi kalau waktu produktifku habis di kampus, hanya untuk mengejar IPK semata. Faktanya, IPK hanyalah untaian angka di kertas selembar, hanya akan membuat bangga saat kertasnya dipandang mata saja. :D

"Widih, ternyata banyak banget yang dapet nilai E, bro?" Iya, di jurusan gue udah biasa, malahan nilai "H" dan "tak terdefinisi" sering muncul juga. Begitulah kehidupan kami, Mblo. :')

"Ah, elu ada-ada aja. Mahasiswanya aja kali yang males." Iya, emang mahasiswanya males. Tapi sumber kemalasan timbul dari berbagai faktor, salah satunya faktor dosen yang kurang menarik. Baik dari segi cara mengajar, materi yang diajarkan, atau dari aspek yang paling penting yaitu "penampilan" dan "tampang". Gue paling males kuliah kalo dosennya cemberut melulu, marah-marah melulu, tua-tua melulu, atau jelek-jelek melulu. wkwkwk :v

"Hahaha, kalau cari yang bening-bening itu artis bukan dosen, bro." Hahaha, iya juga sih. Ya, setidaknya murah senyum lah, tapi jangan sampai gila. wkwkwk 

Andaikan saja dosen dapat dipilih sesuka hati seperti model rambut di tukang potong rambut, mungkin aku juga akan lebih menikmati prosesi kuliah dengan suka hati. :))

"Emangnya dosen makanan warteg. -_-" Hahaha, dosen mah makannya di rumah makan Padang. :v

Dalam postingan Day Diary (5 Januari 2015), aku sempat menceritakan kesialanku saat UAS mata kuliah dasar elektronika. Sang dosen yang kebetulan menjadi pengawas ujian, menemukan kertas A4 selembar yang berisi coretan-coretan latihanku pra ujian. 

Namun, memang sudah menjadi hal yang lumrah bila dalam kondisi ujian, kertas sekecil apapun pasti akan dianggap kertas contekan, walaupun kertas tersebut adalah karcis parkir sekali pun. -___-"

Aku sempat menulis sebuah doa agar sang dosen membaca postinganku tersebut dan mengetahui status sebenarnya dari kertas yang terjatuh dari saku jaketku bukanlah contekan, melainkan tulisan latihan semata.

Nah, aku pun masih bertanya-tanya dalam hati: 

"Apakah dosenku membaca tulisan di postingan day diaryku tanggal 5 Januari 2015?"  

Apapun alasannya, minumnya kopi hitam. :D


Tetapi, itu saja aku pikir yang aku akan tulis dalam postingan ini, kopi hitamku sudah habis. Selain itu, aku tak ingin menodai kebahagiaanku ini dengan materi-materi lain yang biasanya keluar tanpa disengaja saat aku menulis. :D

"Apa yang biasanya keluar, bung?" Inspirasi tulisan dong, bukan yang lain, bang. :v 

Ah, pokoknya hari ini aku akan berpesta untuk merayakan kebaghagiaanku ini! :D

"Wah, mau pesta apa, bos? Ajak-ajak dong. :D" Pestanya adalah tidur di bawah jam 12 malam. :v

"Yaelah, jangan ngajak-ngajak dah, bos. Ane masih perawan tingting. wkwkwk" Siapa juga yang mau ngajak, siapa juga yang peduli ente masih perawan. -__-"


Sandra Dewa