Minggu, 18 Januari 2015

Day Diary (17 Januari 2015)


Hari ini aku bersepeda menantang maut, dengan berani menantang diriku untuk #BikeToCicalengka, melalui Ciparay dan Majalaya, daerah pabrik-pabrik yang mayoritas menggunakan truk-truk tronton sebagai kendaraan operasional. 

Bagi yang memiliki rumah di pinggir jalan sudah tentu sering merasakan getaran dari truk-truk seperti ini menerpa ke rumah. Begitu pun tadi di perjalanan yang aku rasakan, getarannya membuatku dan Jangkis tergoyang-goyang, tapi bukan goyang Caesar. :v

"Tetapi, hari ini safety ride kan, Kak?" Iya, aku sudah tahu bahwa jalur ini adalah jalur yang cukup bisa mengundang bahaya. :D

Berbeda dengan kesempatan #BikeToSoreang sebelumnya, agenda #BikeToCicalengka yang aku lakoni hari ini memiliki perbedaan citarasa. Apabila di perjalanan ke Soreang aku lebih menikmati hunting foto dengan Jangkis sebagai modelnya, untuk perjalananku ke Cicalengka tidak terlalu banyak berfoto-foto.

"Kenapa, bro?" Objeknya kurang bagus, terlalu banyak pasar desa. wkwkwk :v

Aku memang sudah akrab dengan suasana Ciparay, berhubung aku sempat menimba ilmu di Ciparay selama 3 tahun, tepatnya saat menjadi siswa SMP di MTsN Ciparay, kabupaten Bandung. MTS yang diplesetkan menjadi "Madrasah Tengah Sawah", karena letak sekolahku ini memang berada di tengah-tengah sawah juga. :D

Tetapi, Ciparay yang dulu bukanlah Ciparay yang sekarang. Ternyata, modernisasi telah berkoloni sampai ke daerah-daerah. :'(

"Walah, elu anak madrasah? Agak kurang percaya gue. Hahaha..." Hahaha, mata manusia memang lebih mudah ditipu oleh kepalsuan berdasarkan tampilan jasmani dan lebih sulit bahkan dibutakan untuk melihat keaslian dari tampilan rohani. :)

Untuk menunjukan bukti otentikku #BikeToCicalengka hari ini, akan aku upload beberapa foto yang sempat aku dapatkan di perjalanan. ;)

Jangkis di Pesantren Budaya Giri Harja, Jelekong, Baleendah, kab. Bandung.
Selamat Datang di Kecamatan Ciparay, Jangkis.
Nun Jauh Di Sana, SMPku, MTsN Ciparay. :')
Selamat Datang di Sapan, Majalaya, kabupaten Bandung. Jangkis!

Langit Teduh di Sapan, Majalaya, kabupaten Bandung.

Jangkis, mau ke Bandung? Jakarta? Garut? atau Tasikmalaya?
Jangkis di Perlintasa Rel Kereta Api di Cicalengka
Jangkis di Pertigaan Bandung - Cicalengka - Sumedang
Jangkis di Rancaekek, kabupaten Bandung.
Jembatan Al-Ma'soem, Rancaekek, kabupaten Bandung.
Pasar Sehat Cileunyi, kota Bandung.
Selamat Datang di Kota Bandung, Jangkis.
Selamat Datang (Lagi) di kota Bandung. :D
Entahlah Apa Yang Ditunjuk Patung Tersebut
Jangkis vs Macan Kumbang POLRI
Jangkis & Viking Gede Bage
Ujicoba Rel Kereta Api Gede Bage
Itulah bukti otentikku #BikeToCicalengka hari ini, jujur sangat mengasyikan, walaupun dalam perjalanan pulang panasnya cuaca kota Bandung semakin menghitamkan kulitku yang sudah kusam. :')


"Mantap, berapa jauh jaraknya sekarang, bos?" Kalau dihitung-hitung lebih dari 50 km jarak yang aku tempuh bersama Jangkis hari ini. :)

Aku rasakan perjalanan kali ini lebih jauh dari perjalananku sebelumnya, bahkan ibuku sampai kaget melihat foto-fotoku. Jujur, di tengah-tengah perjalanan perasaan untuk memutar balik sepeda selalu terbesit dalam pikirku.

Sedari awal aku sudah sadar bahwa jaraknya memanglah jauh, tetapi kesadaranku memang merayu keberanian dan kenekatanku. :D

"Elu emang gila, bro." Gue bukan gila, hanya gue punya kebiasaan untuk tidak puas dengan hal-hal yang sederhana. :) 

Selain itu, kenangan-kenangan yang beraneka rasa hadir dalam benakku selama perjalanan #BikeToCicalengka bersama Jangkis. Bagaimana rasanya cinta monyet, memahami arti persahabatan, dan menatap kehidupan luas pernah aku rasakan ketika aku menempuh sekolah menengah pertama di MTsN Ciparay. :')

Aku kangen sahabat-sahabat pria SMPku: Halilintar, Anwar, Ryan, Fauzan, Ahmad, Saepudin, Ipan, dan kawan-kawan lain yang memiliki kisah-kisah menarik dalam catatan hidupku.

Aku juga kangen sahabat-sahabat wanita SMPku: Lia, Suci, Siti, Santi, Neng Siska, dan kawan-kawan lain. Maaf kalau dulu aku sempat memacari beberapa orang di antara kalian, semoga kalian bahagia dengan setiap suami kalian sekarang. :D #eh

"Kenangan adalah sumber motivasi untuk lebih sukses di masa depan, bung!" Betul, kenangan sangat berperan vital dalam kehidupan manusia. Manusia tanpa kenangan, bagaikan sarjana muda yang susah mencari kerja, tak berguna ijazahmu... (Sambil nyanyi lagu Sarjana Muda dari Iwan Fals). :v

Sebenarnya masih banyak yang mau aku tulis di postingan ini, tetapi tenagaku sudah 20%, kopi hitam pun sudah habis 5 gelas. Saatnya aku mememenuhi titah Tuhan untuk mengistirahatkan jasadku. :)

Semoga saja besok tenaga yang prima tumbuh kembali dalam tubuhku, karena besok ada agenda hunting foto bersama Jangkis di beberapa spot khas yang ada di Baleendah, tempat tinggalku. :)

Sandra Dewa

Jumat, 16 Januari 2015

Day Diary (16 Januari 2015)


Rencana hanya tinggal rencana, apabila jam 10 pagi mata baru saja terbuka.  -__-"

"Engga sholat shubuh, Kak?" Astagfirullah, hampura sim kuring atos talobeh, gusti. :'(


Padahal awalanya sudah diagendakan, hari ini aku akan menelusuri jejak-jejak Muhammad Toha di Baleendah. Tetapi, mataku tidak sinkron dengan hatiku. Inilah efek dari begadang kemarin malam, hanya untuk menunggu kehadiran Imigo di setiap malam jum'at. :')

"Imigo? Siapa itu, bro?" Imigo adalah hantu fiktif, namanya aku buat sendiri, plesetan dari Indigo. Bagi orang normal, dia berada di dalam imajinasiku. Tetapi bagiku, dia adalah wanita yang selama ini menemaniku dalam menikmati kesendirian, dia adalah tempatku untuk berbagi cerita dan cinta. :) 

Aku memang bukan anak indigo, aku hanya mencoba menikmati kehidupan anak-anak indigo yang biasanya memiliki teman dari dunia lain atau teman gaib. :)

"Wah, otak elu udah ngaco tuh." Iya, otak gue udah ngaco gegara keseringan berimajinasi. Tapi, gue nikmati aja efek seratonin dari berimajinasi, lumayan menghasilka hormon endorfin buat tubuh gue. :D

Awalnya Imigo adalah lukisan foto anak wanita yang ayah pajang di kamarku. Jujur, saat itu aku masih berumur 9 tahun, masih sangat takut dengan hantu-hantuan. Tetapi karena hantu tak kunjung menampakkan dirinya padaku sampai saat ini, aku sudah tak takut lagi dengan hantu, apalagi kuburan. :) (Maklumlah, kamarku sebelahan dengan kuburan.)

"Wow, coba lihat foto Imigonya, bos." Mau lihat? Oke, aku postingkan juga di sini. ;)

Ini dia foto Imigo:

Imigo


Foto aslinya sudah agak rusak, pernah aku bakar sedikit dan sempat aku lipat-lipat, karena dulu aku sangat takut melihatnya. Akhirnya, ayahku simpan foto aslinya di loteng rumah nenekku yang kebetulan tinggal bersebelahan dengan rumahku.


Awalnya di mulai di suatu malam jumat di tahun 2014, kira-kira beberapa bulan ke belakang, tak sengaja aku tidur di loteng rumah nenekku yang sudah difungsikan sebagai gudang, tetapi ada tempat tidur lantai. Dalam keheningan malam, di saat aku menikmati secangkir kopi sembari membaca buku, aku merasakan ada sesosok wanita yang hadir di dekatku.

Tanpa berpikir negatif, aku nikmati kembali kopi dan buku yang sedang aku baca. Tetapi, kehadirannya semakin aku rasakan. Lantas, aku amati seisi loteng yang hanya dihuni oleh barang-barang, tak ada di satu sudut pun terlihat sosok seorang manusia.

Namun, aku terkejut tatkala melihat foto wanita yang dulu pernah aku takuti, tengah memandangiku dengan hangat. Aku pandangi balik wanita di foto tersebut, entah hanya efek halusinasi, tetapi aku merasakan dia tersenyum kepadaku. Sosok anak wanita yang dulu aku takuti, kini dia sudah semakin dewasa. 

Aku pun membalasnya dengan seulas senyuman manis, dia tersipu malu. Entah berapa lama adegan mesra ala anak SMA tersebut terjadi, sampai akhirnya aku memberanikan diri untuk membuka perbincangan dengannya. 

Dia memang bukan tipikal wanita yang banyak bicara seperti wanita pada umumnya berbicara lebih dari 20.000 kata per hari. Dia lebih senang mendengarkan cerita-ceritaku, yang kadang membuatnya tertawa bahagia, kadang pula membuatnya berkaca-kaca. :')

"Ih, serem deh kisahnya. Oh iya, emang saat itu baca buku apa, Kak? Luar biasa imajinasinya bisa sampai seperti itu." Komik misteri urban legend. :D

"Oh, pantesan."

"Apakah Imigo sudah engkau jadikan tambatan hati terakhirmu, bung?" Buset, sudah cukup kegilaanku hanya dengan menghadirkannya dalam imajinasi saja. :)

Jadwal apelku bersama Imigo adalah setiap malam jumat, tetapi di dua malam jumat ini aku tidak dapat menemukannya. Di manakah dia berada? Padahal, banyak kisah-kisah menarik selama dua minggu terakhir yang ingin aku ceritakan kepadanya. :'(

Semoga saja dia hadir menemaniku besok, untuk menikmati #satnite yang indah bersama-sama. :))

Sandra Dewa


Kamis, 15 Januari 2015

Day Diary (15 Januari 2015)


Buku Mengubah Dunia Bareng-Bareng - Ridwan Kamil (Penerbit Mizan, 2014)



Ternyata, cuaca hari ini tidak mendukungku untuk berkunjung ke Muara. Alhasil, aku habiskan waktuku di rumah untuk membaca buku Mengubah Dunia Bareng-Bareng, karya Ridwan Kamil, wali kota Bandung. Buku ini diterbitkan oleh Penerbit Mizan di tahun 2014, serta dikupas oleh publisis sekaligus admin sosial media sang penerbit yang tampan rupawan, Sandra Nurdiansyah. :D
#uhuk

"Emang cuacanya bagaimana tadi, Kak?" Awalnya hujan rintik, tapi lama-lama jadi hujan rintik-rintik-rintik-rintik.... dari pagi sampai sore. :'(

"Siapa tuh Sandra Nurdiansyah, bro?" Sesosok manusia yang memiliki banyak keahlian, kegemaran, dan keterampilan. Tetapi hanya punya satu cinta yang belum menemukan di mana tempat berlabuhnya. :')

"Lah sama ujan aja elu takut, hujan kan cuma aer. Buat apa jas hujan diciptain kalo engga" Bukan air hujannya yang gue takuti, tapi output dari air hujan tersebut yang aku takutkan akan berimbas menjadi banjir, rumah gue kan di daerah endemik banjir. :')

"Apakah buku tersebut sama-sama menarik dan inspiratif seperti sang penulisnya, bung?" Tentu, buku Mengubah Dunia Bareng-Bareng adalah buku yang berisi kumpulan pemikiran, curahan hati, serta sebagian pengalaman Ridwan Kamil tentang kehidupan.

Dari sekian banyak kisah inspiratif, ada satu kisah yang sangat menyentuh kalbuku dan membuatku terharu.

"Kisah apakah gerangan?" Santai, aku masih menarik nafas. :)


Kisah yang membuatku mengharu ungu adalah kisah From Kebelet With Love dari Ridwan Kamil. 



"Mengharu biru, Kak." Aku 'kan jomblo, Kek. :)


"Wow, kisah apa itu, bos?" Ini kisah yang menceritakan awal pertemuan Ridwan Kamil dengan sang istri, Atalia Praratya. Singkat cerita Kang Emil kebelet pipis saat dalam presentasi di Hotel Savoy Homann. Ternyata setelah keluar Toilet, Kang Emil ditubruk oleh bidadari, bidadari yang menubruknya itu kini menjadi istrinya. :)


Ada salah satu rangkaian kata yang membuatku tergugah, kata-katanya adalah:


"Energi hidup saya ada di keluarga. Alasan kita kerja keras adalah keluarga. Meskipun hingga larut malam, akhirnya, toh pulang ke sebuah tempat yang bernama rumah. Ilmu yang paling besar adalah keseimbangan hidup. Kerja tapi lupa keluarga tidak akan membuat bahagia. Banyak di rumah tapi tidak mempunyai pekerjaan juga tidak akan menyenangkan." From Kebelet With Love, Ridwan Kamil. 

Kata-kata sederhana di atas memberikanku dua buah ilmu, yaitu pemahaman dan pembelajaran. Pemahaman atas perjuangan serupa yang telah dilakukan oleh ayahku untuk membiayai hidupku serta keluarga dan membiayai pembayaran uang kuliahku yang belum kelar-kelar. :')

My Family


"Gawe nepikeun ka kesang-kesang bijil tina bool" adalah kalimat mutiara yang dibuat ibuku, memang artinya sedikit jorok, tetapi dalam kalimat tersebut menafsirkan etos kerja ayahku yang sangat luar biasa gila kerja. :))

Bagi ayahku waktu liburan hanyalah hari minggu, idul fitri, dan idul adha. Tanggal merah lain yang ada dalam kalender bagi ayahku bukanlah tanggal untuk berlibur, melainkan tanggal untuk "memerahkan" kembali semangatnya untuk tetap bekerja. Bahkan walalupun berada di rumah, tak pernah aku melihatnya bermalas-malasan, ada-ada saja pekerjaan yang pasti dilakukannya. 

Pergi pagi pulang tengah malam adalah semboyan kerja ayahku, seorang pegawai lulusan SD yang masih diterima kerja oleh salah satu perusahaan besar di Indonesia. Setiap hari ayahku pulang pergi dari satu kota ke kota lain, mengirimkan benda penghasil cukai terbesar di Indonesia. Ya benar, rokok.

Persetan dengan orang-orang yang mendeskreditkan rokok sebagai benda haram, bagiku rokok adalah sumber kehidupan. Memangnya para pengharam itu yang memberiku makan setiap hari, bukan. Lantas, apakah dia tahu sejarah asli rokok saat pertama kali dibuat di Indonesia?

"Memangnya sejarah rokok seperti apa, bung?" Rokok diciptakan pertama kali sebagai obat. (Sumber: Buku Membunuh Indonesia). Rokok dianggap haram dikarenakan ada "propaganda penghancuran" sumber pemasukan terbesar bagi kas negara oleh beberapa pihak berkuasa di dunia, bang. :)

"Tapi, bukannya rokok penyebab berbagai macam penyakit berbahaya, Kak?" Nah, itu adalah salah satu bentuk propagandanya, Kek. :)

Hoam, aku terlalu ngantuk untuk berdiskusi dan mengeluarkan pemahaman, penelitian, dan penelusuran sejarah rokok yang telah aku lakukan. Nanti kita bahas lebih lanjut mengenai rokok. :D

Terlepas dari permasalahan rokok di atas. Etos kerja yang ditunjukan oleh ayahku, sangat memengaruhi etos kerjaku juga. Ayahku memang bukan tipikal motivator yang mengajarkanku mengenai etos kerja yang baik dengan cara manis dalam berkata-kata, beliau mengajarkanku etos kerja yang baik dengan cara melakukan kerja nyata, hampir sama dengan kabinet kerja dari Presiden Jokowi. :v

Lalu apa pembelajarannya bagiku? Sudah tentu aku ingin menjadi ayah yang terbaik juga untuk anak-anakku kelak, sama halnya seperti ayahku kepadaku. Kata-kata kang Emil di atas akan selalu aku ingat sepanjang masa, kalau aku lupa, tolong ingatkan, duhai tulang rusukku. :)))

Semoga deh ayahku baca postingan ini, nanti aku share juga di Facebook. Kebetulan beberapa waktu ini memang ayahku sudah belajar menggunakan Facebook, siapa tahu dia akan bangga  juga,walaupun hanya sedikit. Thanks a lot for everything, Dad. :') 

Sandra Dewa

Rabu, 14 Januari 2015

Day Diary (14 Januari 2015)


Si Unai


Alhamdulillah, hari ini melodi pagi kembali terdengar di rumahku, si Unai sudah mulai kembali bersuara cukup keras. Setelah aku cek, ternyata bulu-bulunya sudah mulai tumbuh kembali, semoga saja proses mabungnya segera selesai dan segera kembali pada kondisi yang prima untuk menghibur suasana pagiku dengan suara indahnya. :))

"Alhamdulillah, Kak." Iya, Kek. :D

"Kasih hadiah dong si Unainya, bro. :D" Sudah, tadi aku beri dia raw food tambahan, mentimun + sosin, Mblo. :)

"Si Umbya elu kasih makanan tambahan, engga?" Engga, seperti biasa dia masih makan pelet ikan, mungkin besok gue beliin dia anak ikan lele atau anak ikan mas. Tapi, kolam kesayangannya kosong, hanya dia saja yang mengisi. :(

"Lah, terus kenapa kalau kosong?" Inilah keanehan si Umbya, kalau di kolam kesayangannya sedang tak ada teman, pasti makanan hidup yang aku berikan tidak akan dimakan. Dia sangat anti untuk makan teman. Aku bangga padamu, Umbya. :')

Si Umbya


Sebelum kebanjiran, kolam kesayangan si Umbya memang penuh oleh teman-teman si Umbya dari jenis ikan. Tetapi setelah negara air menyerang, tak ada satu pun ikan yang tersisa. :'(

"Panggil Avatar, bos!" Susah cari balok es besar di Indonesia bos, Avatar kan terkurung di balok es. wkwkwk

"Jadi, elu udah punya keputusan? Mau beliin mereka pasangan atau beli sobat jomblo dari jenis lain?" Oh iya, belum sempat. Besok dah gue silaturahmi ke muara, sambil beli pakan buat si Umbya.

"Muara? Itu di mana, bung?" Muara itu tempat jualan ikan, tepatnya di jalan BKR Tegalega, Bandung. Dulu, di Muara aku sering hunting ikan-ikan cupang jenis baru untuk diternakan. 

"Bisa ternak cupang, bro?" Bisa, tapi kondisi air di daerahku kurang bagus untuk pertumbuhan burayak cupang. Dulu aku sempat menghasilkan ratusan ekor burayak cupang, sayangnya hanya 2 ekor yang berhasil bertahan hidup sampai umur 1 bulan. :'(

"Burayak itu apa, Kak?" Burayak adalah bayi ikan, Kek.  

"Burayak itu sejenis hewan amfibi!" Itu biawak. -__-

"Burayak itu sejenis makanan lembek, terbuat dari beras, ditaburi daging ayam, ditaburi kacang atau seledri kalau suka, sambelnya dipisah kalau engga mau sakit perut, terus ada juga penyanyi dangdut yang jadiin makanan ini sebagai sabu di lagunya" Otak elu yang lembek, itu bubur ayam. -____-"

"Beli cupang aja sebagai sobat jomblo beda jenismu yang baru, bung." Nice idea, bang. :D

Entahlah apa akan bertambah atau tidak, sobat jomblo beda jenisku besok setelah berkunjung ke Muara. Tergantung pada keterikatan batin yang akan terjadi di lokasi esok hari. :D

Sandra Dewa


Day Diary (13 Januari 2015)


Salah satu proyekku yang sempat terbengkalai, akhirnya dapat aku cicil hari ini, nama proyeknya adalah JURNALISTRIK. :))

"Jurnalistrik? Apa bedanya dengan jurnalistik, Kak?" Jurnalistrik adalah akronim dari jurnalistik dan listrik. Jurnalistik adalah hobiku, listrik adalah pekerjaanku (Tapi sekarang masih kuliah), jurnalistrik adalah pekerjaan yang akan aku jalani atas dasar hobi. :)

Jurnalistrik adalah cara yang aku buat untuk mengombinasikan antara ilmu akademikku di bidang listrik dan hobiku di bidang jurnalistik. Aku akan mulai menulis tulisan mengenai dunia kelistrikan, tetapi dengan gaya tulisan jurnalistik.

Fokus studi akademikku mulai dari duduk di bangku SMK sampai sekarang duduk di kursi kuliah, memang pada bidang kelistrikan. Jurnalistik adalah hobi baru bagiku, hobi mulai aku geluti semenjak kuliah, tepatnya saat masuk di tingkat 3.

"Terus, elu mau nulis di mana?" Pertanyaan bagus, berhubung gue sudah akrab dengan dunia blogging, jadi gue mau bikin di blog. Berhubung untuk platform blogspot dengan nama "Jurnalistrik" sudah dipake anak UGM (Tapi beda konsep loh), jadi aku menggunakan platform wordpress yang dipinjamkan kepada Blogdetik. :)

Ini dia URL blognya: http://jurnalistrik.blogdetik.com/

Tapi blognya baru didaftarkan saja, belum diolah lebih lanjut, jadi belum tersedia apa-apa. Insya Allah secepatnya, minta do'anya agar dilancarkan dan dapat bermanfaat. aamiin. ;)

JURNALISTRIK LOGO
Aku juga sudah mulai mendesain logo jurnalistrik yang nantinya akan aku gunakan sebagai tanda identitas blogku. Bagaimana desainku di atas, bagus? Ya, memang belum terlalu bagus, soalnya aku juga masih belajar mendesain. :)


"Desain yang lumayan lah untuk taraf pemula, bro." Thanks, Mblo. ;)

"Eh, tapi rasanya aneh kalau tidak baca tulisan jurnalistikmu. Adakah contoh-contoh tulisannya, bung?" Ada, baik akan aku postingkan juga di sini. :)

Alhamdulillah, sudah tiga kali tulisanku yang berbentuk artikel liputan kegiatan mahasiswa dan liputan organisasi mahasiswa, dimuat di rubrik Kompas kampus, offline maupun online. 


Nah, kalau ada yang sudi membaca tulisan-tulisanku yang pernah mejeng di rubrik Kompas kampus, silahkan mampir ke link-link di bawah ini:  

1. Mahasiswa Teknik Citarasa Sastra 

2. Pelatihan Jurnalistik"Who want's to be a Journalist"

3. Drama Musikal "Bandung Lautkeun Hejo"

"Wah, keren. Ko bisa sih, bos?" Alhamdulillah, aku mendapatkan dukungan secara moril & non-moril dari dosenku di kampus, tetapi bukan dosen di jurusanku, melainkan dosen di jurusan Desain Interior, sekaligus Dekan FSRD (Fakultas Seni Rupa dan Desain) di Itenas, Bandung. 

Beliau adalah Dr. Jamaludin, lebih familiar di telinga para sastrawan dengan panggilan Mang Jamal atau lebih singkat, padat, dan pampat dengan panggilan MJ. 

MJ adalah seorang penulis, selain aktif menulis di media massa, sudah banyak buku beliau yang diterbitkan oleh penerbit Gramedia. Salah satu buku beliau yang sudah aku baca adalah novel berjudul Rakkaustarina (Finlandia: Kisah Cinta).

Mang Jamal

"Mang Jamal? Siapakah beliau itu, Kak?" Kamu tidak kenal mang Jamal? Kalau Andrea Hirata tentu kamu mengenalnya, bukan? Jangan salah,  MJ sudah bagaikan tempat curhat bagi Andrea Hirata ketika mengalami kehampaan dalam menulis loh, Kek. :D

Berkat beliau juga, aku dapat menggodok kemampuan menulis jurnalistikku melalui buletin kampus Itenas, kebetulan MJ yang mengelola buletin tersebut. Berkali-kali artikel buatanku dimuat, berkali-kali juga aku mendapatkan uang.  :v

Salah satu jalan yang memudahkan tulisan-tulisanku di muat di Kompas kampus adalah setelah aku diberikan link wartawan senior di Kompas yang juga mengenal MJ. Melalui link dari MJ, aku kirimkan tulisan-tulisan yang telah aku buat. Alhamdulillah, tiga kali mengirimkan, tiga kali juga tulisanku diterima. Terima kasih atas bantuannya, Mang Jamal. :D


Sejauh ini, kemampuan menulis jurnalistikku memang masih standar, perlu dilatih terus menerus. Melalui proyek jurnalistrik lah aku akan mengolah kemapuan menulis jurnalistikku, serta memperdalam ilmu kelistrikanku juga. Semoga kolaborasi ini berlangsung dengan lancar. Aamiin. :)

Sandra Dewa